Kompetensi dalam bisnis

Sebagai mukhodimah akan saya ceritakan tentang masalah motor saya. Alkisah gear rantai motor saya yang sudah berteriak-teriak minta ganti sebab gigi gearnya sudah loncat sana-sini. Singkatnya saya bawa kendaraan butut saya ke bengkel di kota pinggir jalan raya. Gear set seharga Rp.140.000,- plus pemasangan Rp.10.000,- saya bayar tunai. Alhasil terpasanglah gear dan rantai pada tempatnya. Hati senang bukan kepalang. Saya merasa masalah sudah selesai, tak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
image
Kepuasan saya tak bertahan lama. Selang beberapa hari oli mengalir dari gear box depan. Mengalir dengan tenang namun tak menenangkan. Dengan perasaan kecewa, saya bongkar sendiri. Ketemulah masalahnya. Seal gear tidak terpasang dengan semestinya. Terlalu kedalam sehingga menutup lubang oli. Masala yang mudah menurut saya. Kembali saya serahkan pengerjaan ke bengkel setempat.

Rupanya tak semudah yang saya kira. Mekanik sekaligus pemilik kebingungan. Masalahnya setiap seal diganti, oli masih nggak mau berhenti mengalir. Saya harus rela tak tidur disamping tumpakan saya. Motor saya harus rawat inap.

Tibalah waktu pengambilan motor kesayangan. Kembali dengan rasa puas dan mantap saya jemput dia dari bengkel. Awalnya tanda-tanda bocor benar-benar tak nampak. Namun begitu saat saya memutuskan mengecek dipagi harinya, alangkah kagetnya saya. Oli mengalir lebih deras. Lebih deras dari sebelumnya. Membuat saya kecewa berat.

Sudah menjadi keputusan akhir, saya tak akan membawa kembali kebengkel manapun. Akan saya tangani sendiri. Toh saya juga anak bengkel, walau bukan bengkel motor. Saya beli seal di toko. Selanjutnya saya bongkar motor sendiri. Dan tak sampai berjam-jam bahkan berhari-hari terpasanglah seal pada tempat semestinya. Dan hingga saat ini tak ada tanda-tanda oli menetes.
image
Dari uraian diatas, saya simpulkan kedua bengkel yang saya datangi tidak memiliki tenaga yang kompeten. Mereka tidak benar-benar memahami sepeda motor. Bahkan untuk urusan yang sesepele itu. Bahkan masih kalah sama saya yang toh bukan ahli otomotif. Toh saya cuman mengandalkan sedikit logika beberapa informasi saja. Dan para mekanik bengkel tersebut selayaknya sudah melalui tahap pendidikan yang melahkan.

Dari kesimpulan tersebut memunculkan suatu pertanyaan dalam benak saya. Mereka yang bahkan tidak terlalu kompeten mampu mendirikan sebuah usaha. Bahkan ada beberapa orang yang benar tak tau menahu suatu bidang tertentu mampu mendirikan usaha dalam bidang tertentu. Lalu, perlukah berkompeten untuk mendirikan usaha?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s