Senja

Matahari telah sampai pada batas akhir perjalanan nan melelahkan hari itu. Rasa lelahnya diguratkan melalui cahaya merah menyala di ujung langit sana. Wajahnya semakin sembunyi dibalik gunung. Seakan-akan ia sambil malu-malu ia mengatakan ,” Esok aku akan kembali untuk kalian wahai manusia”.

Polah tingkah matahari ini tak digubris sejumlah perempuan yang bergerombol di depan sebuah warung sederhana. Mereka terlalu asik bercengkerama dengan sesama. Berbicara dengan berbagai gaya masing-masing. Membuat tempat itu tak ubahnya dengan pasar dadakan. Berbagai obrolan yang semata-mata membicarakan rekan mereka yang tak nampak. Atau membicarakan tentang kenjantanan lelaki mereka dikala malam menjelang.

“Anu jeng, laki saya kalau kerja ya kerja saja. Tak pernah ia neko-neko. Lirik sana lirik sinilah”, seloroh Sumi. Perempuan setengah baya dengan gaya mentel setengah mati.

“Ah…sunggu beruntung sampeyan buk. Lelaki setia tak ikut-ikutan jaman edan”, Sutinem si penjaga toko menanggapi dengan seriusnya.

“Sama jeng, laki saya juga gitu. Gak pernah neko-neko. Pokoknya joslah”, Tiyem tak mau ketinggalan membanggakan lakinya yang menjadi buruh pabrik itu.

“Itu lho jeng, lakinya bu Tinah. Sudah pengangguran, tiap hari kerjaanya cuma gangguin perawan tetangga saja”.

“Kalo saya punya laki kaya gitu, pastilah saya tak akan mau jadi tukang masaknya lagi”.

“Betul jeng, saya juga ogah punya laki kaya gitu, najis lah”.

Sutinem dengan wajah manis senyum menanggapi polah dua perempuan ini. Ia tak berhasrat bercerita. Lakinya kerja dikota. Ia hanya hidup seorang diri. Suaminya jarang pulang. Ia selalu melewati malam-malam bersanding sepi. Tubuh mudanya terbengkalai begitu saja. Kulitnya putih mulus, dadanya menonjol kecil. Rambutnya terurai panjang, hitam dan lurus. Entah apa yang ada dibenak lakinya. Dengan tega ia meninggalkan begitu lama. Hanya beberapa bulan sekali lakinya menjamah tubuh sempurnanya.

“Benar sekali jeng. Brapa totalnya mbak tin?”.

“Lima puluh bu Sumi. Maklumlah harga beras sekarang naik”.

“Ah…begitu ya”.

Kedua perempuan sebaya itu kemudian menyerahkan uang masing-masing. Dalam benak mereka girang bukan kepalang. Sama-sama puas memiliki suami yang bisa dibanggakan.

Dan matahari semakin tenggelam dimakan malam. Kedua perempuan bergegas menuju jalan pulang masing-masing. Sumi bergegas menuju jalan setapak yang jika hujan datang, licinya minta ampun. Jalan pulangnya dipenuhi pohon-pohon lebat disekelilingnya. Rumput-rumput nan liar ikut andil menghiasi jalan. Ia melambai-lambai diterpa angin. Seakan-akan ia ikut bersorak atas kegembiraan Sumi. Dan langkah perempuan itu semakin cepat. Dalam dua ratus meter lagi ia akan sampai keistananya. Hasratnya semakin tak sabar. Membuat hidangan untuk suami tercinta.

Tiyem mengambil jalan yang berbeda. Ia terus menyusuri jalan luas tak beraspal. Di sana-sini terdapat cekungan bekas roda truk yang melintas. Disamping jalan selokan dengan air bening melintas. Nyaris tak ada sampah yang terlihat. Hanya beberapa daun yang tak sengaja tumpah kedalam saluran air tersebut. Dan sesekali jika beruntung akan melintas pula kotoran orang gila yang melintas. Namun kasat mata air terlihat begitu bersih. Airnya mengalir dengan lancar. Selancar pikiran Tiyem. Malam ini ia akan bersiap untuk membuat hidangan spesial untuk suaminya.

Di warung Sutinem sibuk menutup warungnya. Dengan sibuknya ia menutup pintu-pintu kayu yang dipasang berjajar. Engselnya menyambung satu pintu dengan pintu lainya. Pintu lipat sederhana buatan tukang kayu kampung jempolan. Warungnya pun menjadi satu dengan rumahnya. Dibagian dalam warung terdapat pintu menuju ruangan rumahnya. Terdapat beberapa kamar yang berjajar. Kamar-kamarnya tak berdinding batu-bata. Hanya disekat dengan pagar kayu bercat putih. Atapnya berongga tanpa plafon. Sehingga jika menatap keatas terlihatlah genting-genting dari tanah berjajar rapi.

Sutinem masih memikirkan perbincangan tadi. Dua perempuan tadi dengan bangganya memamerkan kesetiaan laki mereka. Ia tersenyum mengejek sambil masuk ke ruang dalam. Lalu ia mengintip ke salah satu bilik disampingnya. Tukijo masih disitu. Gemetar tubuhnya semakin hilang saat Sumi istrinya beranjak pergi. Sedari tadi ia menguping dari dalam. Dan dibilik lain Seno masih terkapar didalam selimut. Tubuh perkasa yang dibanggakan Tiyem.

#cerpen

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s