Pengen Mudik

​Saat-saat seperti ini merupakan saat yang mendebarkan untuk perantau. Ada jangka waktu yang lama tak berjumpa keluarga. Orang tua, sanak kadang atau bahkan anak dan istri. Si perantau telah menyimpan rapat-rapat rasa rindu di hari-hari yang telah berlalu. Ia relakan rasa cinta dan kasihnya kepada bos-bos kaya dikota. Dan saat ini merupakan momentum yang tepat untuk membuka harta karun mereka. Kesempatan itu datang. Kesempatan melepas berjuta-juta rindu yang tersimpan. Kesempatan sejenak melihat kampung kenanganya. Kesempatan bercengkerama dengan kawan-kawan lamanya. Atau mungkin juga kesempatan sedikit memamerkan kebolehanya.

Di tanggal-tanggal segini mereka ( para perantau) ada pula yang telah sampai di kampung. Aku sudah bertemu beberapa kawan itu. Mereka pulang dari Ibukota. Aku tak tau apa profesi mereka. Tukang bangunan kah? Pegawai pabrik? Mandor? Pedagang? Ah begitu banyak dugaan yang kualamatkan kepada mereka. Yang pasti baju mereka selalu rapi. Membikin kehebohan dipagi buta. Jika melewati pasar seketika juga orang-orang menyingkir sambil meliriknya. Anak-anak kecil terheran-heran. Tak taulah mereka siapa dia sebelum seorang dewasa bercerita,”Itulah si anu, kerjanya di ibukota, gajianya sekian juta, sudah punya rumah disana dan disana pula. Dan perempuan itu pastilah calon bininya. Sungguh beruntung si anu, punya pekerjaan mapan dan bini yang jelita. Kelak kau juga harus begitu”. Dengan begitu maka si anak tersebut puas. Dulu saya juga begitu. Lalu timbulah hayalan-hayalan itu. Hayalan tentang surga dikota sana. Hayalan tentang gudang-gudang uang dikota sana atau hayalan tentang gadis-gadis cantik yang tak akan ditemui dikampung.

Dulu mimpi-mimpi hidup dikota begitu terpahat dalam dihatiku. Hingga pada waktu tertentu aku urungkan niatku. Kini akupun dikota. Tak jauh memang. Bisa dikatakan hanya dikota tetangga. Hanya satu jam perjalanan dari kampung. Tak perlu menginap pula selama bertahun-tahun. Dan mana pantas disebut mudik saat lebaran tiba. Tentulah aku tak pantas bergaya layaknya mereka yang dari kota nan jauh. Aku juga tak perlu menyombong tentang keadaan kota yang ku tinggali. Atau membawa-bawa gadis cantik dari kota. Itu semua sudah kupendam dalam-dalam. 

Hanya saja momen-momen seperti ini selalu mengingatkanku. Perasaanku menjadi-jadi. Hanya aku pemuda kampung yang tak pernah tau kebenaran itu. Gudang uang dan gadis-gadis jelita di ibukota. Hanya aku pemuda yang tak pernah bersibuk memesan tiket bus malam yang sering mereka tumpangi. Dan saat lebaran tiba hanya akulah yang tak pernah ditanya,”Le kapan kowe pulang?” Atau, “Kerja apa kowe di kota?” Atau disaat-saat tertentu ketika para perantau berkumpul mereka akan mulai bercerita. Berbagai pengalaman mereka yang hebat, lucu atau yang mengerikan. Aku hanya menjadi pendengar yang baik. Hanya ikut tertawa jika mereka tertawa dan hanya seperti itu. Hanya mendengar dan menyaksikan polah tingkah mereka.

Aku tak lagi tertarik merantau ke ibukota. Walau harus sakit dirasa. Walau harus terlihat kampungan tak tau adab-adab kekinian. Walau tak pernah aku saksikan besar dan tingginya gedung. Karena aku tau, kantong-kantong uang itu ada dimanapun. Juga gadis-gadis jelita. Hanya saja tak dari ibukota, jadilah tak pernah aku rasakan mudik.

selamat menyonsong Idhul Fitri

Iklan

2 thoughts on “Pengen Mudik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s