Cerita malam takbiran

Sore ini takbir berkumandang dimana-mana. Diseluruh pelosok negeri. Didesa-desa dan kota-kota. Semua yang mengatasnamakan muslim ikut bersuara. Entah itu seorang santri yang saban hari menjalankan kewajiban,entah yang hanya Islam dikartu penduduknya atau tanpa tanda pengenal sekalipun, semua ikut nimbrung. Mengagungkan asma Tuhan. Membesarkan asmanya walau hanya sekedar kata.

Didesa saya pun takbir berkumandang dengan lantang. Diseluruh penjuru desa. Anak-anak dengan riangnya kesana kemari. Bermain kembang api atau petasan kecil-kecil. Anak-anak belum tau dosa ini ikut meriah bersenang-senang. Sama saja dari generasi kegenerasi. Setidaknya semenjak saya dulu kecil.

Waktu itu petasan masih dibuat begitu leluasa. Bubuk mesiu dengan mudah didapatkan. Kala ramadhan tiba waktu itu,anak seumuran saya sibuk mengumpulkan buku. Bukan untuk dibaca. Dikumpulkan,diguntingi kemudian digulung. Dimampatkan dikedua ujungnya dengan salah satu diberi lubang kecil. Didalamnya yang berongga itu dibubuhi bubuk mesiu. Jadilah petasan yang waktu itu begitu menjamur. Tak tau apapun tentang bahaya. Taunya cuman senang.

Adapula petasan model lain. Petasan bambu. Biasanya menggunakan bambu petung (ditempat saya). Bambu itu terdiri dari beberapa ruas. Dihilangkanlah ruas-ruas didalam bambu hanya disisakan satu saja ruas diujungnya. Kemudian dibuat juga lubang kecil pada bambu. Bahan bakarnya menggunakan minyak tanah atau bensin dengan sedikit abu. Jadilah petasan dengan model meriam. Seperti meriam-meriam belanda. Senangya bukan main. Dan yang memiliki meriam paling keras bunyinya, itulah yang paling berbangga.

Waktu itu, peringatan-peringatan orang tua tak diperhatikan. Dan syukurnya tak ada kawan sepermainan yang mengalami kecelakaan. Dan ketika saya dewasa baru saya sadar betapa bahayanya petasan.

Saat ini model petasan sudah berbeda. Pemerintah sudah semakin sadar akan bahayanya. Anak-anak kecil sudah bisa diatasi. Bubuk mesiu tak lagi berkeliaran bebas. Kini anak-anak lebih banyak bermain kembang api. Dan masih ada petasan memang, cuma tak segila jaman saya dulu.

Idhul Fitri memang menjadi satu momen yang begitu penting. Setidaknya untuk umat muslim yang berada dipedesaan. Suasananya begitu lain. Begitu meriah, lebih meriah dari hari kemerdekaan sekalipun. Orang-orang didesa selalu menganggap Idhul Fitri adalah bagian yang paling penting dalam alir kehidupanya. Sudah jauh-jauh hari dipersiapkan. Mereka yang petani akan menabung untuk menyambut hari ini.

Saya sering diceritai orang-orang tua. Saat Takbir pertama berkumandang saat itulah berbagai perasaan muncul. Orang-orang akan menangis tersedu kala mereka tak mampu berbuat seuatu. Membeli barang sebungkus camilan atau sepotong pakian untuk anaknya. Kata mereka inilah saat timbul perasaan paling nelangsa. Saya sendiri selalu merasa ngeri saat mendengar cerita seperti itu.

Idhul Fitri seperti ini mungkin tak terjadi di Arab sana, tempat Islam lahir. Namun disini,di jawa,di Indonesia, Idhul Fitri menjadi suatu yang begitu prestisius. Setiap orang menganggap penting. Dan sepertinya tak hanya umat muslim saja. Saya sering mendatangi penganut agama lain untuk sekedar berkunjung. Suatu penghormatan yang begitu baik. Pertanda toleransi antar agama masih terjaga dinegeri ini.

Melaui tulisan ini saya mengucapkan selamat merayakan hari raya Idhul Fitri, mohon maaf lahir dan batin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s