Jatilan Kimin

Kimin merupakan sosok yang pendek dan kecil. Rambutnya dipotong gundul. Matanya bulat, besar seperti bola. Kulitnya sawo matang. Badanya begitu kotor dab bau. Kalau berjalan begitu cepat seperti berlari. Kakinya memang tak panjang, namun gerakan kakinya memang begitu lincah. Kimin menyukai jatilan. Begitu sangat suka ia, hingga pada suatu saat ia pun bergabung dengan rombongan jatilan didesanya.

Kimin memang berbeda dari kawan-kawanya. Kalau bermain jatilan, ia begitu antusias dan semangatnya menggelora. Dengan hanya mendengarkan suara gendang saja, kakinya sudah mulai berjoget. Dan ketika sudah berjoget maka ia akan menjadi lupa segalanya. Orang-orang mengatakan itulah fase saat pemain jatilan kesurupan. Tubuhnya dikuasai roh halus. Roh-roh itu bisa berupa binatang atau orang-orang terdahulu. Mereka tak akan pergi sebelum puas berjoget dan bersenang-senang. Maka dari itu selalu ada pawang saat jatilan berlangsung. Pawang itu bertugas mengusir roh-roh itu.

Namun naas bagi Kimin, pada suatu waktu roh yang merasukinya begitu sulit untuk diusir. Pawangnya telah kewalahan. Berbagai cara telah ia coba, dan tak mampu mengusir roh itu. Lantas dipanggilah para dukun desa untuk membantunya. Dan setelah mereka kepayahan, pergilah roh itu. Namun, petaka Kimin tak sampai disitu. Keesokan harinya ia menjadi sinting. Sering tersenyum dan berjoget sendiri. Lama-kelamaan ia pun dianggap sinting dan gila. Ia berjalan kemana-mana sambil membawa jaran kepang,cambuk dan bende. Dan pada tempat-tempat tertentu ia akan berjoget ria.

***

Pak Di dan Mbok Di rumahnya begitu terpencil. Barang lima ratus meter ia baru akan menemukan tetangga pertamanya. Rumahnya berada dilereng pegunungan. Di sekeliling rumahnya hanya ada rerimbunan pepohonan. Pohon sengon, mlanding, cengkih, kelapa dan masih banyak pohon-pohon lain yang hidup begitu subur. Di depan rumahnya juga terdapat mata air yang begitu jernihnya. Mata air ini tak pernah hilang, walau kemarau yang begitu panjang datang. Dan disaat seperti itu begitu banyak orang-orang berdatangan untuk meminta air. Dan semua orang dibebaskan untuk menggunakan air tanpa membayar.

Malam itu begitu sepi. Didalam rumah yang kecil itu, Pak Di sedang duduk-duduk di kursi panjang dari kayu itu. Didepanya ada segelas teh panas yang masih mengepul serta sepiring singkong rebus yang masih mengepul juga. Kedua anaknya telah tertidur pulas. Dan istrinya masih sibuk didapur.

Diluar rembulan bersinar begitu terang. Sinarnya menerpa lubang-lubang kecil dinding bambu itu. Dan dalam rumah sinar-sinar itu berbentuk bulat-bulat putih dan menempel di dinding dan lantai tanah itu. Sebentar-sebentar sinar itu menghilang tertutup awan, kemudian muncul lagi. Pak Di begitu terhanyut oleh suasana itu. Ia masih duduk terdiam, sesekali menghisap rokok lintingan yang begitu besar. Pipinya hingga ikut terhisap kedalam ketika menghisapnya. Kemudian asapnya mengepul keluar dan kembalilah pipi yang kasar itu.

Sebentar kemudian Pak Di menoleh kesamping, memasang telinga baik-baik. Didengarnya baik-baik. Dan benar ia mendapat suara yang begitu ribut. Malam begitu hening hingga suara terdengar begitu jelas.
“Mbokne..”
“Kenapa pak?”
“Masaklah air, rebuslah singkong lagi atau bikin gorengan yang banyak. Sepertinya anak-anak muda itu mau kemari. Kemarin mereka bilang mau nginep sini lagi”.

Mbok Di tanpa menjawab langsung melaksanakan tugas suaminya itu. Mengupas singkong dan segera merebusnya. Anak-anak muda itu memang sering bermalam ditempat Pak Di. Mereka muda-muda dari dusun sebelah, dusun asal mula Pak Di. Saat malam mereka sering berkunjung. Sebelumnya mereka akan berburu binatang malam dulu. Lantas ketika telah mendapatkanya akan dibawa ketempat Pak Di. Dan jika binatang-binatang itu enak dimakan, maka Mbok Di dengan suka rela akan memasakanya. Dan jika mereka mendapatkan burung kepodang atau kutilang, mereka akan menjualnya.

Malam semakin larut, muda-muda itu masih terdengar cengengesan bersenda gurau. Mbok Di telah selesai merebus dan menggoreng pisang. Begitu banyaknya makanan itu hingga dengan baskom Mbok Di meletakanya.
“Sudah malam pak. Aku mau tidur dulu. Besok harus kepasar”.
“Tidur saja mbokne, biar aku yang tunggu anak-anak itu”.

Puntung rokok Pak Di telah begitu banyak. Ia masih menunggu dan malam semakin larut. Suara-suara itu semakin riuh dan rame. Pak Di sedikit gusar. Biasanya anak-anak itu tak sampai selarut ini. Pak Di pun beranjak dari tempat duduknya. Segera ia berjalan hendak menjemput anak-anak itu.

Berjalanlah Pak Di dibawah rerimbunan pohon. Diatas rembulan bersinar terang menerpa dedaunan. Dengan mengendap-endap ia terus berjalan. Dan ia tak melihat sosok muda-muda terlihat.”Kiranya mereka sedang mengintip burung kepodang, mungkin”, gumamnya. Namun tak pernah ia lihat kepodang disitu.

Lalu Pak Di berjalan lagi. Suara-suara itu lenyap begitu saja. “Ah, kemanalah mereka?”. Lantas Pak Di menuju keatas jalan setapak. Disitu ada sebuah gubuk kecil. Ia mengira anak-anak muda itu disitu. Kemudian suara-suara itu terdengar lagi, diiringi suara bende dan cambuk cetar-ceter. Pak Di hanya bengong menyaksikanya. Di dalam gubuk Kimin berjoget dengan riangnya. Begitu riuh tak terkira. Kimin hanya sendiri dan tak ada siapapun disitu. Pak Di begitu geram dan marah, namun ia tak berbuat apapun. Ia berbalik menuju rumahnya. ” Tak ada gunanya meladeni orang sinting”. Kimin pun terus bersenang-senang hingga fajar menyingsing.

Iklan

One thought on “Jatilan Kimin

  1. Kimin awalnya bisa mengecoh Pak Di dengan keriuhannya, tp kemudian dicuekin krn ternyata dunianya sendiri jauh lebih mengasikkan yg tdk dimengerti ‘orang awam’.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s