Kisah Pak Tua

Pak Tua itu masih saja berjalan. Menghayati setiap jejak langkah kaki telanjangnya. Telapak kaki kasar itu tak merasai runcingnya kerikil-kerikil yang mengganggunya. Dinginya embun pagi menusuk dalam tulang-tulang betis dan pahanya.

Celana pendeknya hanya menutupi sejengkal dari selangkananya. Berwarna hitam, kumal dan berlipat-lipat. Kaosnya berlogo partai yang terbuat dari kain tipis. Dibelakang kaosnya nampak hiasan tahi lalat yang begitu banyaknya. Keringatnya bercucuran menggenangi seluruh badanya. Kulit kepalanya nampak keputihan dihias rambut-rambut yang mulai hilang.

Mentari dengan malasnya menguningi mega-mega dilangit yang membisu. Wajahnya memerah dibalik cakrawala. Pak Tua tetap tak memperhatikan pertunjukan itu. Beban berat dikepala memaksa matanya untuk diam membisu. Hanya kerikil dan debu yang jadi perhatianya. 

Dalam hati Pak Tua masih bersyukur, hanya sesekali ia memikirkan bahaya jalanan menurun itu. Namun, pernah juga ia begitu kesialan. Saat itu hari telah begitu siang. Ia begitu tergesa-gesa. Sebuah batu besar tak dilihatnya, kaki pun tak mampu memandang. Dan tak memerlukan waktu yang lama untuk mendapat hukuman itu. Kakinya tersangkut batu memuat badan dan mukanya menciumi tanah berkerikil itu. Barang bawaanya dengan manja menumpang dipunggungnya. 
Betapa waktu itu ia mengumpat dan mengumpat. Binatang-binatang berkaki empat melompat-lombat dari bibirnya yang mengucur darah. Dua hari dua malam badanya kesakitan diambin bambu tempat tidurnya. Masih beruntung tak ada patah-patah tulang badanya. Tetangganya dengan suka rela memijit dan mengurut badanya.
***
Sudah setengah jam ia berjalan. Menembusi jalan sedepa dilereng gunung. Pak Tua begitu hafal jalan itu. Jalan panjang dari depan rumahnya, menurun dan menurun. Hanya sesekali saja ada jalan mendatar. Kini jalanan menurun itu telah hilang. Didepanya jalan mendatar menuju kota. Hanya sesekali saja jalanan menurun maupun tanjakan.

Kepalanya telah begitu panas, namun enggan ia untuk rehat. Jika ia rehat maka ia akan terlambat sampai ke kota. Ia takut barang bawaanya tak laku lagi. Beberapa hari lalupun ia sampai kota begitu siang, tak ada lagi pembeli yang mau membayarnya. Terpaksa ia menitipkan daganganya itu. Pulang tanpa membawa beras dan kembang gula untuk anaknya. Ah betapa sedihnya Pak Tua waktu itu.
Telapak kakinya begitu mantap menjejaki tanah-tanah kering itu. Matanya tetap kedepan dan sesekali meringis menahan sakit dikulit kepalanya. Tak sekalipun ia menengok kekanan maupun kekiri. Pak Tua tak peduli dengan para orang-orang yang menontonya. Ia telah hafal juga tabiat mereka. Menjadikan Pak Tua sebagai tontonan dan cerita. “Ah…biarlah. Aku tak mencuri, tak juga merampok”, begitulah Pak Tua selalu bergumam.

Bila telah lepas dari pandangan orang-orang itu, Pak Tua sesekali melirik. Melihat keindahan rumah-rumah itu. Rumah-rumah yang terbuat dari kayu, berpagar kayu pula. Gentingya pun dari tanah. Berwarna merah dikala baru sebelum menghitam dan berlumut jika telah lama dipakai. Namun didalmnya tetap saja, air tak menetes dikala hujan. Ingin sekali ia mengganti rumahnya yang dari bambu, berdinding bambu dan beratap ilalang dan ijuk itu. Ah…betapa susahnya dikala hujan. Pak Tua musti menggiring anak dan istrinya untuk berpindah-pindah dikala hujan.

Berjalan sambil bermimpi memang membuat otaknya melupakan rasa lelah yang menimpanya. Tak terasa ia telah meninggalkan rumah-rumah kayu dengan sekejap. Didepanya telah berhias sawah-sawah dengan padi-padi yang menunduk dan menguning. Kemanapun ia menoleh hanya melihat makanan. Dan beberapa hari mendatang, istrinya pun akan memetik padi. Dan ia pun akan menemani pula. Hanya saja ia selalu harus berkeliling dahulu. Mencari pemelik padi yang membutuhkan tenaga untuk memanenya. Pak Tua dan istrinya akan dengan senang hati membantu memanen. Dan jika panen telah usai, ia akan mendapatkan beberapa karung untuk dibawa pulang. Ah…betapa Pak Tua selalu bersyukur dengan itu. 

Lamunan Pak Tua tiba-tiba buyar. Seorang pria yang tak lebih tinggi dari dirinya melambai-lambaikan tangan dan berteriak untuk dirinya. “Sini…sini…Pak Tua”, pekiknya. Bergegaslah Pak Tua itu mendatangi pria itu. Ia masih bersarung, berkemeja putih dan berpeci. Duduk ditangga depan rumahnya. 

“Berapa Pak?”

“Sepupuh Den”.

“Hmmm…”, matanya meneliti,”baiklah! Kayu mlanding kan ini?”.

“Benar Den”, Pak Tua mengangguk membenarkan. 

Pria itu kemudian sibuk memeriksa kantong bajunya. Meneliti kertas-kertas begambar monyet dalam kantong plastik. Jari-jarinya membolak-balik dengan mulutnya berkomat-kamit.

“Nah…ini Pak. Besok jika masih punya langsung bawa saja kemari”.

Pak tua mengangguk setuju sambil menerima kertas-kertas berharga itu. Matanya berbinar-binar. Lalu melangkah kembali. Kebarat daya, ke lereng-lereng kediamanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s