Senja di bulan purnama #ff

“Kata manusia, seperti inilah sore yang indah. Ketika matahari mulai tenggelam, mega yang putih itu akan menjingga. Sinarnya tak lagi menyilaukan. Dan manusia begitu suka memandangnya”.

“Kau benar. Dan mereka ciptakan kita, hanya karena mereka ingin menikmati suasana seperti ini. Mereka menyebutnya anugerah Tuhan”.

“Dan sungguh beruntung kita ini, telah ditanamkan teknologi generasi terbaru. Profesor tua itu telah membuat perasaan kita menyerupai manusia. Kita menjadi logam yang istimewa”.

“Dan hanya kita berdua di bumi ini”.

Suasana kemudian hening. Dua makhluk itu tetap duduk memangku tangan. Tubuhnya berujud manusia. Seluruh tubuhnya berwarna putih. Kepalanya plontos,halus dan mengkilat. Matanya bulat besar. Hidungnya tak berlubang serta telinganya tak bergerak saat bicara. Tak ada rambut maupun bulu dalam tubuh mereka. Kulit-kulit yang tak akan keriput oleh waktu. Dari puncak gedung ini mereka memandang keseluruh kota. Gedung-gedung yang tinggi dan penuh dengan kaca. Juga kendaraan yang berterbangan tanpa suara. Tak ada asap dan tak ada bau. 

“Pantaskah…manusia memperbudak kita? Mereka perlu bertahun-tahun untuk mengerti dunia. Kita hanya perlu beberapa detik untuk mengetahuinya. Mereka itu bodoh”.

“Bukankah mereka yang meciptakan kita? Kita hanyalah seonggok logam. Dulunya terbenam jauh dibawah tanah. Kemudian diangkat dan dibakar dalam bara api, lantas dibentuk seperti ini. Ditanamkan berbagai perangkat yang rumit. Dan kita….menjadi logam tercerdas saat ini”. 

Angin mendesis ringan. Diatas sana mendorong mega-mega untuk berpencar. Menggumpal tebal, menipis, memisah dan mengumpul kembali. Mega-mega itu semakin kelam. Warna putihnya tak lagi nampak. Hanya kemerahan ujung barat dan menghitam diujung lainya. Angin tetap mendesis mengusir ketenangan mereka. Dan gedung-gedung tetap tenang, hanya nampak mulai bersinar. Kelap-kelip mulai bermunculan. Di ufuk timur benda lain mulai muncul. Bentuknya bulat, putih, bercahaya terang dan tak menyilaukan. 

“Apa kau telah mendengar…? Kawan-kawan kita ada yang dikirim ke bulan. Mereka diprogram membangun hotel kaca. Memasang gravitasi buatan. Sebentar lagi manusia akan bersenang-senang disana. Berdiri tegap seperti disini. Dan tak risau oleh gelombang laut”.

“Manusia memang membuat segalanya. Mereka mencoba menyaingi penciptanya. Mereka itu serakah. Sangat serakah. Diatas sana mereka mulai bertempur. Suatu saat nanti kita juga akan diprogram untuk bertempur. Dan mereka hanya akan menikmati senja dan bulan purnama”.

“Dan kita diciptakan untuk merasai mereka. Mungkin juga melawan. Mungkin profesor tua itu membuat kesalahan besar”.

Lelaki tua itu duduk dalam sebuah kursi berkaki enam. Setiap kaki melangkah seperti laba-laba. Ia berdestar putih, berkacamata dan berambut putih. Kulitnya telah keriput. Dipandanginya dua makhluk yang duduk menatap bulan. Dua makhluk itu lantas menengok. Mata bulatnya memandang tubuh renta itu. Kemudian mata itu mulai menutup. Gerakanya mulai menghilang. Juga suaranya. 

“Kalian memang istimewa. Paling cerdas diantara ciptaanku. Dan paling canggih dibumi ini. Dan sayangnya…kalian terlalu cerdas. Benar-benar terlalu cerdas”.

Lelaki tua itu kemudian berbalik pergi diiringi cahaya purnama yang semakin benderang. Kaki laba-labanya melangkah dengan lincah. Dari belakang, nampak kabel menghubungkan kepala belakangnya dengan kursi. Dan ia tetap melangkah. Pintu baja itu kemudian membuka dengan sendirinya. Lantas menutup menelan lelaki tua itu dalam terang bulan purnama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s