Mari bertani

Sangat lucu sekali jika hidup diantara para petani dan tak mampu bertani. Mengolah tanah agar menghasilkan rezeki. Dan memang telah menjadi sangat umum, anak muda tak menyukai pertanian. Bertani itu hidupnya susah, begitulah anggapan orang zaman sekarang. Anggapan seperti itu memang telah merajalela, bahkan saya pun menganggap seperti itu. Walau saya dari keluarga petani, namun minat saya berbeda. Saya lebih menyukai dunia mesin, dunia teknologi.

​Ketika saya memutuskan untuk menyukai dunia mesin, saya belumlah tau seperti apa dunia mesin itu. Dulu saya menganggap, orang-orang mesin itu keren. Menjadi bagian dunia teknologi. Bekerja di perusahaan top dengan gaji yang top pula. Sedangkan petani itu lebih dianggap sebagai orang yang kotor dan hidupnya susah. Bekerja dibawah terik panas matahari. Petani itu merupakan orang-orang ndeso yang ketinggalan zaman. Hidupnya miskin dan hanya dipinggiran.Anggapan saya itu terus berkecamuk dalam otak saya. Dan saya yakin jika anggapan seperti itu berkecamuk juga dalam benak-benak para muda-mudi zaman sekarang.

Dalam kehidupan sekitar saya, para pemuda akan menganggap lucu jika ada kawanya yang mencangkul. Mencangkul itu terlihat kuno, sangat kuno. Anak muda yang mencangkul dianggap bukan anak pintar. Mereka dianggap anak-anak bodoh yang tak mampu berfikir. Dan bukan hanya anak sebaya saja, orang-orang tua pun menganggap begitu. Dan biasanya anak muda yang mau mencangkul, memang anak muda yang tak mampu bersekolah maupun tak mau bersekolah. Untuk itu, akan sangat jarang ditemui pemuda yang mampu mencangkul.

​Dulu pertanian menjadi ciri khas negeri kita ini. Tanahnya begitu subur. Segala tanaman dapat tumbuh dengan baik. Menurut cerita, para penjajah juga datang karena hasil pertanian. Karena rempah-rempah bangsa kita dijajah. Dan rempah-rempah merupakan hasil pertanian. Setelah kini merdeka, kita pun lupa pada rempah-rempah. Kita lebih mengagumi mesin-mesin hasil buatan bekas penjajah. Termasuk juga saya.

Jika dibandingkan dengan bidang teknologi, pertanian memang terlihat lebih kuno. Orang akan lebih tertarik mempelajari komputer dari pada menanam padi. Orang akan merasa gengsi jika mesti bergumul dengan tanah dan kotoran hewan. Padahal semua ahli-ahli teknologi itu membutuhkan makan. Dan makanan dihasilkan oleh pertanian. Kesimpulanya, bertani itu kalah populer dengan berteknologi. Dan kita pun gengsi jikalau tidak mengikuti trend zaman (teknologi).

Iklan

5 thoughts on “Mari bertani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s