Kisah Pak Doyok

Orang itu bertubuh pendek. Hanya sekitar satu setengah meter tingginya. Dia tidaklah kurus, malahan terlihat sedikit gemuk. Tak nampak tulang-tulangnya menonjol disana-sini. Orang itu sering dipanggil dengan nama Pak Doyok. Nama itu bukanlah nama aslinya. Entah apa yang membuat orang menyebutkan nama itu pada dirinya. Tak ada kemiripan sama sekali dengan artis kondang yang bernama Doyok itu. Aku memandangnya akan lebih pantas dipanggil Kadir, kawan main Doyok. Apapun alasanya, sebutan itu telah melekat erat pada orang itu. Sehingga sangat jarang orang yang memanggil dengan nama aslinya. Aku pun begitu, memanggilnya hanya dengan sebutan Pak Doyok.

Pak Doyok ini konon memiliki seorang istri dan empat orang anak. Menurut cerita dia pula, anak pertamanya seorang perempuan. Bersekolah di smk. Dia tak pernah cerita kepadaku tentang tiga orang anak lainya.

Pak Doyok merupakan kawan kerja saya. Statusnya karyawan harian. Menurutnya pula, dia digaji 50 ribu perhari. Tugasnya bermacam-macam. Menyapu, membuat minum, angkat barang dan sebagainya. Setiap pagi ia akan mencuci gelas. Lantas menjerang air, membuat minum dan mengantarkan minuman itu kepada karyawan-karyawan lain.

Aku anggap Pak Doyok ini merupakan karyawan terendah. Mungkin tak ada jaminan kesehatan, jaminan hari tua dan gajinya paling rendah diantara yang lain. Namun, Pak Doyok ini aneh. Sungguh aneh. Dengan keadaan seperti itu, dia tetaplah orang paling periang. Tak pernah saya liat dia berkeluh kesah. Meratapi nasibnya yang begitu. Yang ada, dia mampu tertawa setiap hari. Bernyanyi-nyanyi dan melucu setiap saat. Sangat berbeda dengan yang lain-lainya. Bahkan yang nasibnya lebih baik pun tak mampu seperti itu. Menggerutu, meratap, dan bersedih.

Pak Doyok ini pula yang membuatku iri. Ah….apakah karena dia bodoh? Mungkinkah seperti itu? Orang bodoh mampu berbahagia? Pertanyaan-pertanyaan yang menganggu. Juragan saya yang kaya raya itu kadang pula masih cemberut. Uangnya banyak. Penghasilanya ratusan kali lipat dari Pak Doyok. Dan ia pun pintar. Seorang sarjana. Hartanya banyak. Ia pun kalah dengan Pak Doyok. Aku pun merasa begitu. Kalah dalam urusan tersenyum.

Aku sering mendengar orang berkata: apalah artinya uang. Atau uang bukanlah segalanya. Harta hanya titipan sementara. Tapi akupun tak pernah mendengar: kemiskinan, kebodohan merupakan kebahagiaan. Pak Doyok ini sungguh pelajaran yang luar biasa. Dalam kemiskinanya, kebodohanya dan kerendahanya, ia punya sesuatu yang lain. Syukur…mungkin itulah hartanya. Akupun sangat menduga begitu, ia orang yang pandai bersyukur. Dengan kemampuan bersyukur itu Pak Doyok menjadi berbeda. Menjadi orang yang nrimo ing pandum (menerima nasib). Diapun tidak rakus, gila harta atau gila-gila model zamam sekarang. Dari Pak Doyok ini bisa dimpulkan: jadilah orang yang pandai bersyukur. Syukur…merupakan jaminan kebahagiaan. Aku pun akan berusaha meniru Pak Doyok yang luar biasa ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s