Mbok Tuo

Dua puluh tahun yang lalu, ketika pahing dan kliwon (pasaran jawa) untuk sekedar menambah uang jajan. Lantas dua recehan uang ratusan rupiah ia keluarkan dari kenditnya yang lusuh. Sesudah itu aku lantas berlari dengan riang. Pemberian yang selalu lebih banyak dari pemberian simbok (ibuku). Selama enam tahun kejadian ini selalu berulang. Selama itu pula wanita tua itu selalu iklas menambah uang jajan. Kalau aku tak mendekat, ia mencariku. Dialah nenekku. Aku sering memanggilnya dengan nama Mbok Tuo.

Nenekku merupakan keturunan jawa asli. Ibunya, simbah buyutku, berumur sangat panjang. Seratus dua puluh lima tahun. Aku hanya bertemu beberapa kali saja. Waktu itu ia sudah sangat renta. Kalau jalan sudah terbungkuk-bungkuk. Aku yakin dia tak pernah mengenaliku. Ia mengenal orang lain dengan mendengar suaranya. Sedangkan suaraku, mungkin tak ada dalam memorinya.

Dulu, aku sering mengikuti perjalanan nenekku untuk menjenguk simbah buyut. Rumahnya berada di puncak perbukitan menoreh. Tepatnya berada dalam kawasan sendang sono dan bukit suroloyo. Kala itu aku harus berjalan kaki sejauh lima belas kilometer jauhnya. Setengahnya merupakan jalan yang menanjak, curam dan sepi. Berangkat sehabis ashar lalu pulang sehabis subuh. Melewati kebun-kebun teh dan hawa dingin dipagi hari. Ada kalanya aku bertemu dengan monyet-monyet liar. Adik simbahku sering bercerita, warga sekitar sering membunuh monyet-monyet itu. Mereka merusak tanaman dan mencuri buah-buahan.

Semenjak simbah buyut meninggal, aku jarang sekali menemani nenek kesana. Setahun hanya dua kali. Saat hari raya idhul fitri dan saat tanggal 1 Muharram/suro. Itupun aku lebih sering pergi bersama keluargaku.

Sekitar empat bulan yang lalu, neneku sakit. Berhari-hari tak mau makan. Ia tak biasa pergi ke rumah sakit maupun puskesmas. Aku panggilkan mantri yang biasa memeriksanya, ia pun mau. Akan tetapi keampuhan mantri di hari itu tiba-tiba menghilang. Nenekku tak kunjung sembuh. Hingga berhari-hari ia di rayu untuk pergi ke puskesmas, akhirnya mau juga.

Waktu itu cuaca gerimis, dengan terpaksa adiku harus memboncengkan dengan motornya, sebab mobil tak mampu mencapai rumahnya. Bersama dengan cuaca gerimis tersebut, nenek dibawa ke puskesmas. Sampai disana puskemas tak mampu lagi merawat nenek. Katanya sudah sangat parah. Lambungnya sudah bocor, begitu keteranganya.

Lantas nenek dirujuk untuk dibawa ke rumah sakit. Jam lima sore sampailah di rumah sakit. Setelah sejam mengurus ini itu, resmilah nenek menginap di rumah sakit. Ini merupakan pertama kalinya nenek dirawat di rumah sakit seumur hidupnya. Ia harus merasakan jarum suntik, jarum infus dan obat-obatan yang baunya luar biasa.

Dua hari dirawat, nenek mulai gerah. Walau telah mulai membaik, sepertinya ia tak tahan lagi hidup disini. Ia berusaha melepas jarum infusnya. Ia juga selalu memarahi bapak ibuku yang menunggu disana. Nenek minta pulang. Dan dengan terpaksa, keinginanya dipenuhi. Nenek dibawa pulang. Dirawat dan ditunggu di rumah. Dengan beberapa kali rawat jalan ke rumah sakit.

Beberapa hari berikutnya keadaan yang hampir membaik kemudian memburuk lagi. Nenek tak lagi mau makan bubur buatan ibuku. Ia juga hanya minum dengan sendok yang disuapkan ibuku. Beberapa hari berikunya ia hanya mampu terlentang di tempat tidur. Tak mau lagi untuk rawat jalan ke rumah sakit, apalagi menginap disana. Kami hanya pasrah, menungguinya dan berusaha memenuhi segala permintaanya. Seskali mengundang sanak keluarga untuk mendoakanya. Hingga pada suatu hari , pada sabtu pagi nenek di panggil Allah swt (inalillahi wa innailaihi roji’un). Itu seratus hari yang lalu. Hari ini merupakan seratus hari nenek meninggal. Semoga nenek dimaafkan segala dosa-dosanya dan diterima amal ibadah dan kebaikanya. Amin. 🙏

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s