Sebuah kisah di lereng menoreh

Aku sering melihatnya. Ketika berangkat dan pulang dari kebun. Melalui jalan setapak yang tak lebih dari setengah meter. Jalan itu menempel pada sebuah lereng yang menghadap ke arah timur. Setiap pagi menjadi saksi lahirnya hari baru. Sinar mentari yang masih kekuningan menyapa dengan indahnya, sebelum memanggang dengan teriknya saat siang menjelang.

Lereng itu terdiri dari batu liwis yang tak nampak batasnya. Tanahnya yang kering bercampur dengan banyaknya kerikil atau batuan yang telah melapuk. Pada mulanya ditempat itu banyak ditumbuhi pohon jati. Pada musim-musim tertentu, ribuan ulat jati akan menghabiskan daun-daunnya. Mereka akan bergelantungan dan merayap-rayap ditanah. Dulu ketika melewatinya aku harus berlari karena jijik. Saat ini hanya beberapa pohon jati saja yang tersisa. Pemilik kebun tak berminat lagi untuk menanamnya. Butuh bertahun-tahun untuk menunggu pohon jati dapat dijual. Sedangkan mereka setiap hari harus membeli beras untuk mereka makan.

Jalan setapak yang dulu sering kulalui kini juga mulai dibangun. Pelebaran jalan sudah dimulai beberapa bulan yang lalu. Jalan yang tadinya setengah meter, akan dilebarkan hingga tiga meter. Sepekan sekali, 60 kepala keluarga di dusun harus bekerja bakti selama setengah hari. Mereka harus bertempur melawan batu cadas, batu dan terik matahari. Dengan cangkul, linggis, gaclok, dan alat-alat lainya pelebaran jalan mereka lakukan dengan tekun. Tentunya tanpa gaji, dan hanya atas nama gotong royong.

Dari tempat itu, seantero Magelang raya nampak dengan gunung-gunung yang mengelilinginya. Tak ketinggalan, candi Borobudur yang megah itu, dari situ masih nampak jelas, walau harus memasang mata baik-baik. Delapan kilo meter jauhnya dari peninggalan yang pernah masuk daftar keajaiban dunia ini. Sinar kejayaan masa lalu itu tak sedikitpun menyoroti tanah ini. Tanah ini tetap gersang, penduduknya tetap miskin, dan anak-anaknya banyak yang tak mampu sekolah. Mereka tak tahu menahu mengenai keajaiban yang diciptakan leluhurnya. Atau sekian ikat uang yang mengalir lewat karya nenek moyangnya itu.

Desas-desus mengatakan : monumen sejarah akan dikembangkan, dijadikan salah satu kran penghasilan negeri ini. Tak tanggung-tanggung, kata desas-desus pula: berkarung-karung uang digelontorkan demi kelancaran niat itu. Berbagai bangunan baru dibangun dengan megah. Dan katanya: sebuah “susuh kinjeng wesi” juga dibangun sebagai tempat berhentinya kinjeng wesi dari berbagai negeri. Sontak diriku bingung, apa pula itu kinjeng wesi? Belakangan ini baru kuketahui jika kinjeng wesi itu merupakan pesawat. Besi terbang yang kadang kala melintas di lereng ini.

Orang kampung jelas tak paham dengan perkara semacam ini. Yang mereka tahu hanya beberapa orang berbaju rapi yang sering mengunjungi lereng itu. Lereng yang tak mampu menumbuhkan pohon cengkih yang mereka suka. Lereng yang jika ditanami singkong tak lebih besar dari jempol kaki. Orang kampung pun tak tahu apa maksud orang-orang itu. Manusia-manusia kaya dari kota dengan mobil mengkilapnya. Orang yang berjalan sambil mengukur berapa mili meter ia melangkah. Belakangan ini melalui desas-desus, orang kampung mendapat sedikit pencerahan. Rupanya, orang-orang berbaju rapi yang suka melihat matahari pagi itu, membawa berkarung-karung uang di mobilnya. Uang itu siap diberikan untuk warga kampung, sebagai gantinya tanah gersang yang mereka miliki harus diberikan. Dan kali ini orang sekampung bingung, memilih uang berkarung-karung, atau tanah gersang yang banyak kerikil itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s