Nyadran

Tak seperti makam-makam lain didesa ini, makam ini terlihat lebih terang. Tak banyak pepohonan yang menjulang. Disamping-sampingnya juga tak ada pohon tinggi yang menutup sinar mentari yang pagi tadi bersinar terang. Kerumunan orang terlihat telah mulai memenuhi sebuah pendopo disamping makam. Pendopo itu tak muat lagi, beberapa orang duduk diatas sandalnya disamping pendopo hingga jalan yang agak lebar. Dua buah speaker terpasang di tiang cungkup (rumah kecil diatas liang lahat). Sedangkan beberapa orang berlalu lalang untuk memastikan speaker itu berbunyi.Saya memilih duduk diluar pendopo. Pada awalnya duduk diatas sendal juga, sebelum seorang bapak-bapak bergeser untuk memberikan tempat duduknya. Beberapa saat setelah duduk, speaker mulai berbunyi. Seorang kaum yang belum begitu tua, suaranya menggema hingga diluar makam. Acara tahlil dimulai. Dan tak lebih dari tiga puluh menit acara itu selesai dilanjut acara yang kedua : berkumpul disalah satu rumah warga.

Berjarak sekitar dua ratus meter dari makam, rumah tempat berkumpul telah bersiap-siap. Satu tenda berkerangka besi telah terpasang rapi. Tenda-tenda lain hanya berupa deklit yang dikencangkan dengan tali, tanpa tiang dan kerangka. Kursi telah tertata rapi, meja hanya untuk kursi terdepan. Sebuah mimbar lengkap dengan mikrofonnya berada didepan. Tak ketinggalan, sebuah kotak amal bercat hijau berada disitu. Beberapa warga nampak hilir mudik menyelesaikan tugas mereka.

Setelah semua kursi penuh, acara dimulai. Kali ini acara dipandu oleh pembawa acara. Acaranya sama selayaknya pengajian yang sering diadakan disini. Acaranya lebih lama, jam setengah dua belas baru selasai. Dan seperti biasanya juga, sekantong berkat diberikan kepada semua peserta.

“Nyadran”, diadakan setiap setahun sekali. Tepatnya pada bulan Sya’ban. Nyadran diadakan hampir di semua desa di wilayah menoreh. Acaranya diadakan pada tingkat dusun. Tiap dusun menentukan waktunya sendiri. Semua warga akan berpartisipasi dalam acara ini. Tiap dusun hampir sama susunan acaranya. Ziarah kubur lantas dilanjutkan berkumpul disalah satu tempat yang telah ditentukan. Acara berkumpul ini biasanya di isi dengan pengajian.

Walau diadakan di tingkat dusun, peserta nyadran bisa saja berasal dari luar dusun. Bahkan berasal dari desa lain. Mereka yang merupakan keturunan warga dusun tersebut. Ketika hari dan tanggal nyadran telah sampai, mereka akan berbondong-bondong untuk nyadran. Telah menjadi kepercayaan juga, jika telah memulai nyadran didusun lain, maka seumur hidup mesti melanjutkanya.

Nyadran merupakan tradisi yang telah turun-temurun. Nyadran juga telah menjadi salah satu bagian hidup segenap orang yang tinggal di desa ini dan beberapa desa lain. Nyadran juga menjadi salah satu cara untuk menyambut bulan Ramadhan yang hampir datang.

Anda pernah nyadran juga?

Iklan

2 respons untuk β€˜Nyadran’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s