Togok dan batu ajaib

Walau hanya tertinggal sedikit dalam ingatanku, kejadian itu belum benar-benar terhapus dari memori kepalaku. Hari itu tak lebih dari jam delapan, walau nama harinya tak dapat kuingat lagi. Langit cerah dan matahari membakar. Dan sesuai dengan janji yang telah dibuat, aku bertemu denganya. Lelaki yang beberapa tahun lebih tua dariku. Orang-orang memanggilnya Togok. Bukan nama aslinya, hanya saja saya menduga nama itu dipatrikan kepadanya karena sering tak naik kelas. Dan isi perjanjian yang kami buat adalah melakukan perjalanan. Perjalanan sejauh delapan kilometer. Menyaksikan keajaiban dunia yang belum pernah aku saksikan walau ditanah lahirku sendiri.

Bapak dan simbok tak pernah mengajaku kesana. Mungkin mereka juga tak pernah kesana. “Hanya batu, buat apa liat dan mesti mengeluarkan uang. Saban hari kau lihat batu saat pulang sekolah bukan?” Tentu aku tak pernah membantah, walau rasa penasaran selalu bergejolak. Batu macam apakah yang ada disana. Di buku globe yang dibelikan simbok ada gambarnya. Bagus sekali, batu-batu yang ditata rapi dan ada ukiranya juga. Dan kata buku itu, batu itu keajaiban dunia. Betapa bangganya saat membolak-balik buku itu. Di tanahku ini, ada juga batu yang ajaib. Dan mungkin ciptaan para dewa seperti dongengan-dongengan Pak Tuwo yang sudah beruban itu.

Dan suatu waktu Togok menjadi semacam dewa lain penyelamat kepenasaran itu. “Kau pergi bersamaku saja. Besok ada waisak, melihat orang-orang bercukur plontos. Melihat batu-batu yang tertata rapi dan berukir. Kalau pergi bersamaku, kau tak usah membayar untuk melihatnya. Minta sangu sedikit saja, yang penting bisa beli es dawet campur gula jawa”. Begitulah Togok memberi harapan dan jalan untuk mengobati rasa penasaran. Dan hatiku senang bukan main. Kelak aku bisa bercerita, bercerita kalau aku sudah mendatangi batu-batu bertata rapi dan berukir. Batu ajaib, paling ajaib didunia.

Dan benarlah, hari itu aku bersiap-siap. Minta uang saku sepuluh ribu kepada simbok. Mandi pagi, memakai kaos yang bagus, celana panjang dan bertopi . Tak ketinggalan pula sandal jepit merek swallow itu, sandal jepit yang begitu elit dikampung. Dan perjalanan pun dimulai. Menelusuri jalan turunan yang tak ada rumah disetiap sisinya. Melewati batu-batu yang tak tertata, dan sebentar lagi aku akan melihat batu bertata rapi dan berukir. Dan kulewati juga jalan rata dengan rumah dikanan kirinya. Dan aku melihat orang-orang yang sering diceritakan bapak. Orang-orang yang kerjanya hanya duduk-duduk diteras dan suka berbisik ketina bapak melintas membawa kayu bakar untuk dijual. Kali ini mereka tak berbisik dan tak peduli. Dan aku terus berjalan dan berjalan. Hingga kaki ini serasa mau copot, penyesalan mulai berbenih. Ah…rupanya harus melepaskan dengkul ini hanya untuk melihat batu bertata rapi dan berukir, kau tak menipuku kan Togok?

Sejam telah berlalu, kaos telah basah oleh keringat. Sendal swallow juga mulai licin. Namun harapan ada didepan mata. Aku telah dapat melihat batu bertata rapi dan berukir itu menjulang diatas pepohonan. Di samping sawah berbatas pagar besi bercat hijau dan berbatas dengan pepohonan yang aku tak tau namanya. “Nah kita sudah sampai”, begitulah Togok menghibur dan melegakan hatiku. Dan sampailah pada sebuah sudut pagar besi bercat hijau itu. Tak ada pintu, hanya kayu yang diikat pada pagar yang lalu terlihat seperti tangga. “Hayooh…manjat”. Seperti monyet yang sering kulihat saat mengunjungi mbah buyut, Togok memanjat ikatan kayu itu. Aku pun mengikuti tanpa memprotes perbuatan Togok. Dan berjalanlah melalui rumput-rumput hijau yang pendek-pendek barang lima menit. Dan aduhai….batu ajaib itu ada didepan mata.

Seperti seorang prajurit pengawal aku ikuti saja keman langkah Togok. Berpapas dengan orang-orang berbaju rapi, bersepatu dan berminyak wangi. Berpapas pula dengan orang-orang berambut plontos. Dan terobatilah rasa penasaranku ini. Tak hanya melihat, aku bisa menyentuh dan berdiri diatas batu bertata rapi dan berukir yang ajaib ini. Dan akupun mengikuti Togok hingga puncak, melihat dan mencari dimana rumahku. Dan berpuas-puaslah hingga mentari berada diatas rumahku. Dan benih penyesalan lahir kembali. Sebentar lagi aku akan berajalan pulang kesana. Membawa kenang-kenangan batu ajaib dan Togok.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s