Pak Lik

Aku mesti menolak memanggilnya simbah. Badannya terlihat masih kekar dan berotot. Wajahnya juga terlihat masih muda, walau umur telah berkepala empat. Walau secara garis keturunan kata “simbah” mesti kulontarkan padanya, namun kata itu tak pernah kusebut untuknya. Belum pantas, begitulah pikirku. Ia pun tak pernah menolak jika kupanggil dengan sebutan lain. “Pak Lik” menjadi sebutan yang sering kuucapkan.

Tahun-tahun telah berlalu. Aku tak pernah melihat pak lik itu lagi. Menurut kabar, ia pergi merantau. Menjadi buruh bangunan dikota. Kadang menjadi tukang batu, kadang menjadi tukang kayu. Kemampuan yang sama persis dengan bapakku. Perawakanya juga tak jauh berbeda. Mungkin juga umurnya tak jauh berbeda. Hanya saja bapakku kini tak lagi merantau. Lebih memilih dirumah, merawat pohon cengkih dan kopi sembari ikut membesarkan cucu-cucunya.

Pak Lik ini pun menjadi sahabat bapakku. Mungkin saja seperguruan dalam belajar tukang. Kadang, saat merantau juga bersamaan. Aku masih ingat, bertahun-tahun yang lalu pak lik ini merayu bapakku untuk membikin batu-batu. Dia yang mencetak dan membakarnya. Rupanya pak lik ini sedikit nakal. Pekerjaan tak diselesaikan sepenuhnya, walau upah sudah diambil duluan. Hasilnya juga tak karuan, dan dengan terpaksa batu-bata itu juga dipasang untuk membikin rumahku. Dan pak lik ini menghilang, bertahun-tahun kemudian baru muncul. Dan tak pernah lagi membicarakan batu-bata. Bapak pun tak pernah mengusiknya lagi.

Kenakalan pak lik ini rupanya tak hanya soal batu-bata. Beberapa cerita orang-orang : pak lik ini suka mengambili sesuatu. Dan pantas saja, buah-buahan, kayu bakar, kelapa, dan rumput di kebunku habis tak bersisa. Dan menurut cerita orang-orang, pak lik inilah pelakunya. Ah…kalau sudah begitu bapak pun tak pernah menegur. Hanya menyesalkan perbuatanya saja. Lantas bercerita mengenai orang-orang yang malas, orang-orang yang enggan menabung, orang-orang yang hidupnya hanya mencari makanan enak. Dan aku hanya akan mendengarkan dengan sesekali disindir perihal tingkah laku sehari-hari.

Waktu terus berjalan, kisah batu-bata telah lama terkubur. Tak ada lagi buah-buahan, kayu bakar, kelapa maupun rumput yang lenyap dikebunku. Dan hari itu cuaca panas bukan main. Tak nyaman rasanya pergi ke kebun. Kuhabiskan waktu untuk bersantai. Menikmati tidur siang yang sudah jarang kunikmati. Dan entah mengapa wajah kekar pak lik muncul dalam mimpi. Bersama anak gadisnya yang cantik itu. Dan entah alasan apa mereka muncul dalam mimpiku. Gadis itu pun tak pantas untuk sekedar diimpikan. Sudah bersuami, dan kalau tak salah sudah dua kali. Umurnya juga beberapa tahun lebih tua dariku, walau masih akan begitu sulit menolak andai memadu janji denganya.

Pada suatu waktu aku bertemu dengan gadis itu. Di sebuah jalan di tepi tebing. Dia menggendong sekarung penuh tahi kambing. Pipinya memerah bukan karena malu. Keringat menetes disana-sini, namun tak juga melunturkan kemolekanya. Lalu munculah lelaki yang dikenal sebagai seorang bajingan tengik. Hobinya menenggak tuak, berjudi dan berkelahi. Dan entah mengapa, perempuan manis itu mesti sekasur bersama bajingan itu.

Sebuah keributan kecil memaksa mataku untuk terbuka dan mencari arah suara-suara itu. Seorang ibu-ibu, seorang anak yang begitu gempal dan seorang lelaki kurus bersama adik iparku sedang meributkan betapa menguntungkanya daun cengkih. Aku mengenali mereka semua. Yang menarik perhatianku, lelaki kurus itu. Dialah pak lik yang tak ada lagi sisa-sisa kegagahanya. Tubuhnya kurus, kering dan nampak begitu tua.

Pak Lik mendekatiku yang sedari tadi memandanginya. Ia ulurkan tangannya yang nampak gemetaran. Hanya bertegur sapa sekenanya. Hampir saja terucap untuk mempersilahkan masuk rumah, segelas air putih masih tersedia walau bulan puasa. Niatku kuurungkan, bibirnya terlihat begitu kering. Kali ini rupanya Pak Lik berpuasa. Syukurlah kalau begitu. Walau ada rasa iba pria yang kini tua itu terlihat mengenaskan, ada rasa senang pula melihat lelaki itu telah mengamini umurnya.

Pak Lik, aku pun lekas-lekas berkaca kepadamu. Dulu, badanmu begitu kuat, suaramu juga lantang. Saat ini, aku yang kerempeng ini tak mungkin kalah andai beradu kekuatan denganmu. Dan suatu saat nanti akupun begitu. Apa yang aku miliki sekarang juga akan hilang. Dan mungkin saja lebih mengenaskan darimu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s