Rokok membunuhmu, tidak merokok kalian terbunuh

Kali ini suara-suara burung yang biasa sahut menyahut tak ada lagi. Begitu pula dengan teriakan ayam hutan yang tak pernah lagi terdengar di telinga. Tak seperti beberapa minggu yang lalu, suara-suara burung dan ayam hutan senantiasa menjadi bunga suasana. Dengan setianya mereka menemani dan menghibur petani yang berpeluh keringat.

Rupanya burung-burung itu tak hilang atau ditangkap orang. Begitu pula dengan ayam hutan yang tak lagi dijerat pemburu. Mereka hanya sedang bersembunyi. Menghindar dari suara-suara baru yang memenuhi tiap sudut kebun. Mereka itu para pemetik cengkeh yang dalam tiga bulan ini akan mengalahkan suara-suara burung dan ayam hutan. Kelakar canda tawa mereka kini memenuhi suasana perkebunan disana-sini. Teriakan-teriakan saat diterpa angin kencang terdengar lebih merdu dari suara-suara burung yang biasa menghias.

Dalam tiga bulan ini panen cengkeh akan dilakukan oleh para petani. Sehabis lebaran, para petani yang biasa mengadu nasib ke kota sebagai pekerja sambilan, menunda kepergian mereka. Juga para pemudanya yang lebih memilih untuk menjadi buruh petik cengkeh. Desa yang sekian lama seperti mati terlihat seolah hidup kembali. Laju perekonomian berjalan dengan pesat. Puluhan juta setiap harinya menjadi nominal uang yang berjalan. Nilai jual-beli, upah buruh, perlengkapan panen dan tentunya belanja sembako yang pasti meningkat dari biasanya.

Kesempatan kerja terbuka begitu luas. Begitu banyak tenaga kerja yang dubutuhkan. Bahkan, banyak petani yang kebingungan karena tak kebagian pemetik cengkeh. Setidaknya 80-90% orang yang biasa buruh di kota dapat diserap di desa. Suatu kondisi yang hanya terjadi jika ada panen cengkih. Kondisi dimana orang-orang desa tak lagi bergantung pada orang kota. Kondisi dimana orang desa mampu berekonomi secara mandiri. Akan tetapi, petani cengkeh masih saja terancam. Kemandirian orang-orang desa ini dalam bayang-bayang kepunahan. Mungkin saja suasana semacam ini tak ada lagi.

Dalam beberapa tahun terakhir, kampanye anti rokok begitu gencar dilakukan. Efek negatif rokok bagi kesehatan manusia. Kondisi ini jelas mengancam keberlangsungan petani cengkeh. Sebab, 90% hasil cengkeh di negeri ini diserap oleh industri rokok. Dan andai saja ruang gerak industri rokok semakin terbatas, maka budidaya cengkeh akan lesu juga. Orang desa akan kembali ke kota.

Dan parahnya pemerintah tak juga memberi solusi untuk para petani ini. Mereka seakan hanya mencari aman. Enggan untuk berfikir, memberi solusi kepada petani cengkeh atau tembakau. Mencarikan lapangan kerja untuk mantan-mantan buruh industri rokok. Andai saja dalam beberapa tahun mendatang industri rokok ditutup, maka tak akan ada yang terbunuh oleh rokok. Namun, akan banyak pula yang berpotensi kelaparan. Atau meningkatnya profesi maling dan rampok. Dan burung-burung serta ayam hutan sepanjang tahun akan menghias perkebunan di tanah ini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s