Tak suka miskin

Pemain Benfica maupun Sevilla belum ada yang mencetak gol. Stadion terlihat tak penuh. Karena hanya pertandingan persahabatan mungkin, kedua kelompok suporter tak berminat untuk menyaksikan. Tak ada pemain yang saya kenal, pertandingan juga tak terlihat menarik. Jadilah tv itu menjadi radio bergambar. Komentar berbahasa inggris juga tak saya pahami. Hanya menunggu ketika gol terjadi, teriakan dan kegembiraan itu terlihat menarik.

Belum setengah jam pertandingan berlangsung, tiba-tiba ada headline news. Pertandingan bola dipotong begitu saja. Andai bukan pertandingan persahabatan, stasiun televisi itu pasti akan dimaki habis-habisan. Setiap detik merupakan momen penting dalam pertandingan bola. Gangguan beberapa detik ndongkolnya bukan main. Dan kali ini dipotong untuk menyiarkan headline news. Kalau bukan bencana mungkin saja teroris, begitulah dugaan saya.

Bukan bencana, teroris juga bukan. Kalapas Sukamiskin ditangkap KPK. Didalam jeruji sukamiskin ada kamar mirip hotel penuh dengan fasilitasnya. Berlipat-lipat lebih bagus dari kamar saya. Bahkan jauh lebih bagus daripada tempat tidur orang sekampung maupun sedesa saya.

Kata berita itu, orang yang seharusnya menjadi tahanan itu menyuap kalapas supaya mendapat fasilitas itu. Kata berita itu pula, tahanan itu merupakan koruptor. Parasit. Pencuri. Kalau tak salah, kalapas mendapatkan mobil mewah, dan uang tentunya. Dan tahanan itu katanya juga keluyuran kemana-mana.

Masyarakat awam, seperti saya, tahunya penjara itu menakutkan. Kamar tahanan berjeruji dengan besi-besi hitam yang lebih besar dari jempol. Pintunya juga dari besi, dikunci dan digembok. Tak ada kasur, dan mungkin saja hanya ada tikar yang sudah bolong disana-sini. Televisi mungkin hanya impian dalam penjara. Andai saya dipenjara, saban hari pasti rindu menonton bola lewat tivi yang sudah uzur ini. Tapi, penjara yang saya lihat diberita begitu berbeda. Seperti hotel. Sempurna. Hanya jadi mimpi untuk saya dan sebaya untuk memilikinya. Untuk membikin kamar semacam itu, saya mesti menjual rumah saya.

Berita tak habis-habisnya. Hingga saya tinggal tidur dikasur yang tak empuk lagi ini, kemudian bangun dan berpeluh keringat mencari makan. Sukamiskin, kalapas dan koruptor masih nongol ditelevisi. Membosankan. Ini bukan pertama kali. Pejabat korupsi. Tertangkap dan dipenjara. Lalu bikin kamar hotel dikamar penjara. Mereka itu tak suka miskin. Biar jera, mesti ditembak seperti teroris. Biar ada bukti, dalam liang lahat tak mungkin menyuap mungkar dan nakir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s