Dongengan saat pitil

Setumpuk bunga cengkeh masih berada dihadapan kami. Semenjak dimulai sehabis maghrib, ini baru berkurang setengah. Bunga cengkeh harus dipisahkan dari gagangnya. Lantas baru bisa dijemur atau dijual kepada pengepul. Gagangnya sendiri akan dijemur hingga kering. Setelah itu bisa ditumbuk sebagai bumbu lintingan (rokok buatan sendiri), dijual pun bisa. “Besok kalau tak punya uang, tak ada dagangan, ini pun bisa dijual”, begitu nasehat bapak sewaktu aku disuruh menjemur gagang cengkeh itu. Gagang yang jumlahnya ribuan itu mesti saya sebar ke genting, supaya terpapar matahari. Beberapa hari kemudian akan menjadi hitam, lalu dimasukan ke karung dan disimpan hingga beberapa bulan kemudian.

Setiap kali pitil (memisahkan bunga cengkeh dari gagangnya), selalu diselingi dengan berbagai cerita dan obrolan. Pitil merupakan kegiatan yang sama membosankanya dengan memetik. Walau tak membutuhkan banyak tenaga, pitil juga begitu melelahkan. Setelah seharian memanjat pohon, malam harinya bunga-bunga cengkeh ini harus dipisahkan dengan gagangnya. Kalau tidak segera di pitil, maka akan sangat susah. Bobotnya juga akan berkurang, hasilnya kerugian pun datang.

Dongengan sejarah selalu yang paling saya suka. Lebih tepatnya cerita tentang masa lalu dari orang-orang yang lebih tua. Dari situ pula aku bisa membedakan dan membandingkan dengan situasi saat ini. Cerita masa lalu selalu membuat gairah kehidupan lebih menyala. Kalau orang-orang zaman dahulu bisa, sepertinya akupun bisa, begitu pikirku.

Suatu kali, aku pun pernah mendengar cerita tentang kehidupan ditanah ini. Kisah orang-orang yang disegani dan ditakuti oleh yang lainya. Begitu menarik dan kadang begitu sulit untuk di masukan dalam akal sehat. Ilmu ghaib, kesaktian, dunia lain, bukan aku tak percaya. Hanya karena aku tak pernah menguasainya, tak pernah menarik perhatian. Hanya saja, kadang terpaksa mendengarkan dan mengiyakan.

Sebagian penduduk desa ini dulunya begitu miskin. Jangankan untuk kesenangan, untuk makan pun begitu susah. Penduduknya hanya mampu menanam tanaman semusim. Yang paling populer adalah jagung, kedelai hitam dan singkong. Konon, padi juga ada, hanya saja tak banyak. Saya sering mendapat cerita, konon tanah yang kini ditumbuhi pohon cengkeh itu dulunya sawah. Yang satu ini juga susah diakal. Pasalnya sekarang sering kekeringan, dulunya sawah, dan bukan sawah gogo.

Penduduknya juga banyak yang tak punya tanah. Kebanyakan buruh tani dengan upah yang rendah. Kalau tak ada buruhan, tak ada yang dimakan, mereka mencuri. Yang dicuri singkong. Singkong ini kemudian dimasak, direbus atau diparut. Kulitnya pun dimasak, dibakar. Konon, bapakku dulu juga harus mencuri. Karena kakek sudah meninggal ketika bapak masih kecil, maka bapak mesti membantu nenek memberi makan keempat adik perempuanya. Sekarang, setelah mampu membeli beberapa petak tanah. Singkong selalu ia tanam. Siapa yang mau boleh ambil, gratis. Bapak tak pernah marah, saat singkong maupun jagung ada yang mencuri. Katanya sebagai ganti karena dulu bapak mencuri singkong.

Sekarang, tak banyak orang yang kelaparan disini. Keluarga yang seharinya tak makan nasi beras. Andaikan ada, orang itu bukan karena sama sekali tak punya. Hanya saja mereka malas. Walaupun masih ada juga yang memang kekurangan lahan. Namun, secara garis besar telah ada perubahan. Walau perubahan itu tak berarti akan berlangsung dan bertahan hingga tahun-tahun kedepan. Tantangan penduduk tanah ini terus saja datang. Entah seperti apa hari depan nanti, kembali menjadi pencuri atau menjadi orang dengan bentuk lain, aku tak tahu.

2 respons untuk ‘Dongengan saat pitil

  1. Jaman kecil paling seneng ngumpulin polong cengkeh, kadang ditanam (pinginnya mbibit sendiri). Sekarang pohon cengkeh sudah musnah di kampung saya. Ingat juga ondo lanang…..

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s