Generasi Petarung

Jika tak berani adu pukul, mungkin saja tidak akan masuk dalam dunia laki-laki. Bukan seorang pejantan yang pantas dihormati. Dan mungkin saja seperti itulah yang ada dalam benak beberapa remaja yang beberapa hari lalu tawuran di Magelang hingga ada korban nyawa.

Anak sekolah semestinya berperilaku dengan moral yang terdidik. Terlebih lagi satu kelompok dari para siswa yang membawa label Agama yang semestinya berakhaq lebih baik. Hanya saja, apalah arti sebuah nama yang begitu mudah diucapkan. Dan memang tak banyak anak-anak yang lulus dari nama sekolah dan sesuai dengan nama besar itu. Dan parahnya, hampir rata-rata sekolah saat ini semacam itu.

Bertahun-tahun yang lalu saya hidup dalam kondisi yang hampir sama. Dalam ruang-ruang sekolah dengan laki-laki yang lebih dominan, bahkan hampir 100% laki-laki. Saya masih ingat bagaimana tingkah laku murid, guru, lingkungan, dsb. Dan saat ini mungkin saja belum berubah jauh, atau mungkin saja lebih parah lagi.

Banyak orang yang menganggap kalau premanisme di dalam sekolahan itu biasa. Kenakalan remaja saat seusia itu juga biasa. Perkelahian antara remaja juga biasa. Hanya saja kebiasaan-kebiasaan itu berlarut-larut hingga akhirnya menimbulkan kejadian yang luar biasa.

Sekolah yang saat ini ada bukanlah tempat yang mampu mengubah pola hidup manusia. Sekolah yang saat ini ada bukanlah tempat yang mampu mengajarkan perbedaan sifat manusia dengan binatang. Sekolah yang saat ini ada hanyalah semacam pasar, dimana barang yang sama keluar masuk dengan harga yang berbeda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s