Tentang Golput dan Politik Uang

Ketika jutaan orang hiruk pikuk merayakan pesta demokrasi, ada jutaan lainnya yang memilih untuk tidak ikut campur merayakannya. Mereka terdiam, lebih memilih menjadi penonton dari keramaian tersebut. Mungkin saja akan disebut pengecut maupun pecundang, namun orang-orang ini tentu saja tak peduli. Bagi mereka, tentu saja dengan tidak memilih di pundak mereka tidak ada beban. Tidak akan terlalu kecewa ketika lima tahun mendatang nasib mereka tidak berubah sama sekali.

Sebagian orang tentu tidak menyukai perilaku orang-orang golput ini. Hingga ada pula yang menyebutnya sebagai pendosa. Sebagian yang lain tak mau tahu. Sebagian lagi akan merayunya, yang ini tentu saja agar mendapatkan pendukung yang lebih banyak lagi.

Selain golput ada fenomena lainnya lagi, yaitu memilih setelah diberi imbalan uang. Kalau yang ini saya yakin dosa. Namun, hal semacam ini semakin banyak terjadi. Bahkan saya hampir pasti melihat kejadian itu di banyak kampung di sekitar saya. Memang, bentuknya belum tentu uang untuk individual. Mereka ada yang berkelompok, baik 1 RT, 1 RW, maupun satu dusun. Beberapa juta rupiah akan mereka dapatkan setelah si calon berhasil menduduki kursi. Atau bisa juga uang diberikan sebelum pemilihan, kemudian jika si calon berhasil menduduki kursi, maka uang akan ditambah sesuai kesepakatan.

Menjelang pemilu seperti ini, orang-orang kampung menjadi sasaran empuk bagi politisi. Selain karena tak begitu paham masalah politik, orang-orang kampung ini hidupnya begitu banyak yang susah. Banyak iming-iming yang kemudian menyeret mereka kedalam suatu dunia yang tak benar-benar mereka pahami. Yang ada dalam pikiran mereka tentu saja kebahagian, walau itu hanya sekejap saja. Mereka tidak akan peduli tentang harga beras 3 atau 5 tahun mendatang. Namun, mereka akan begitu senang ketika menerima amplop 50 ribu untuk memilih wakil-wakil mereka.

Penderitaan warga kampung saat ini merupakan alat tersendiri bagi para politisi. Dengan memberikan orang-orang kampung ini harapan, walaupun palsu, tentu saja akan melambungkan nama mereka. Tak perlu paham benar bagaimana menjadi negarawan yang baik. Tak perlu benar memahami berbagai strategi meningkatkan kehidupan orang-orang susah dikampung. Yang diperlukan sekarang adalah bagaimana memberi harapan itu. Entah jalan yang bagus, beberapa lembar uang, atau lain sebagainya. Mereka tak pernah mengatakan 5 tahun mendatang, atau kedepanya akan seperti apa.

Mungkin saja karena berbagai kondisi tersebut begitu banyak orang yang lebih memilih golput. Dengan berbagai resiko yang mereka tanggung pastinya. Saya sendiri bukan seorang golput, hanya saja lebih memandang golput juga bukan suatu kesalahan. Ada alasan yang kuat mengapa mereka memilih jalan itu. Jadi hormati saja mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s